;
Rabu 16 november 2011, saya kembali berwisata ke air terjun dolo untuk ke tiga kalinya. Mulanya saya benar-benar tidak menginginkan untuk kembali berwisata ke tempat itu. Mengingat waktu wisata pertama, kaki saya sampai gementar saat melintasi tangga yang kata orang sichhh 1000 lebih anak tangga untuk bisa capai lokasi air terjun. Jadi kalo pergi pulang 2000 lebihlahhhh....!!! Tapi karena bosan di kost, akhirnya saya ikut bareng.
Perjalanan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Nasi 1 reskuker, 3 ekor ikan mentah kami bawah. Juga peralatan dan perlengkapan pangang. Boleh dibilang wisata kali ini adalah wisata kuliner. Dengan personil, saya, K" Ema, K" Iren, K Okto, K" Andi, K" Borgol, K" Vacko dan K" willi (Kulianya di Jogja, kebetulan lagi treveling ke Kota Tahu. Jadi, K willy pingin terapi betis. "Iya kah...????" Iya kaleeeeee). Empat sepeda motor vs 8 manusia. hehehehe................
Berangkat sekitar pukul 13.00 WIB, kami memulai rute perjalanan dari Kampung Dalam (tempat kontrakan kami) menuju air terjun dolo. Jaraknya sekitar 25 km dari kota kediri. Tepatnya di Dusun Basuki Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri.
Sepanjang jalan, pemandangan yang begitu indah dapat kami nikmati. Pegunungan yang ditumbuhi beribu-ribu pohon cemara, dengan teras yang ditata rapi oleh para petani mengintari pepohonan. Pemandangan ini tak pernah membosankan untuk dipandang. Betapa giatnya para petani wilayah ini sehingga pegunungan dengan berbagai jenis tanaman begitu tertata rapi dialam itu. Pemandangan yang serupa belum pernah saya temui ditempat lain.
Banyak tikungan dan belokan tajam yang harus dilalui. Memang asyik tapi berbahaya bagi pengendara. Tak bisa dibayangkan jika sesuatu terjadi dengan kendaraan atau kelalaian pengendara. Mungkin sangat buruk jika terjadi.
Perjalan kami hampir tiba di tempat tujuan. Kali ini kami lebih melihat, bagaimana hijauhnya alam itu. Alam indonesia, alam kediri, alam dolo sungguh masih hijau. Pegunungan yang mengelilingi air terjun dolo sangat indah. Di Puncak pegunungan terlihat awan putih tebal. Hawanya sangat dingin. Wow, begitu dinginnya hawa dolo.
Setelah tiba, kami harus membutuhkan 20 menit lebih untuk menuju lokasi air terjun. Seperti yang sudah saya bilang diatas. Kali ini kami harus berjalan tanpa kendaraan. Jangan mencoba jika ingin masih hidup. Soalnya bukan aspal, bukan jalan raya. Hanya tangga dengan beribu-ribu anakan tangga. Mampus ni. Orang kupang bilang "beta bisa mati badiri ni"....
Mau tak mau harus. Lucunya, belum setengah perjalanan, keluh, kesah, kesut mulai terdengar. hahahaha. Waduh, mending duduk saja dulu. Jalan sambil duduk. Begitu dan begitu terus. Yang seharusnya 10 menit, akhirnya harus 20 menit lebih. Memang, tak mampu. Hanya arti kebersamaan yang memampukan kami.
Selesai sudah rintangan ini. Akhirnya tiba dengan agak kepincangan. Syukurrrrrrrrrrrrrrrrr.......................!!!
Lagsung ke tujuan utama kami, panggang ikan terus makan bareng. Kayu bakar, dan perlengkapan untuk panggang, sesegera kami siapkan. Setelah itu, 1 jam lebih 3 ekor ikan dapat selesai dipanggang sambil poto-poto. Lumayan lama soalnya kayu bakarnya pada lembab semua.
Kini saatnya untuk makan bersama. Ternyata ada sambal dengan tomat, bawang merah, dan cabe yang dibuat K" iren. Sambal khas orang timor memang begitu. Tanpa di goreng tapi rasanya ingin makan sambal tanpa nasi. Semua makanan habis dilalap tanpa sisa. Hanya tulang ikan yang tersisa.
Setelah hampir 2,5 jam di lokasi air terjun, kamipun harus kembali. Saya sempat berpikir "seandainya saya seperti spiderman, mungkin tangga ini tidak saya lewati lagi". Sayangnya, hanya diangan-angan. Huffff, kembali lagi melewati tangga-tangga itu. Tapi akhirnya...... We can. Dua kali lipat, 1000 tangga dapat kami lewati dengan susah payah.
Langsung janji: Cukup untuk terakhir kali ke dolo. Bayangkan saja, sampai saat saya menulis postingan inipun tumit saya masih kesakitan.
Tobat......tobat......!!!
Dan kamipun kembali_____
Berikut Foto-Foto yang diambil hari itu:
Baca Selengkapnya
Pedagang gorengan sangat mudah ditemukan, terutama saat menjelang malam hari. Hampir disetiap kota, kita pasti menemukan pedagang-pedagang gorengan. Lokasi yang paling banyak ditemukan adalah dipinggir jalan.
Sore ini mungkin merupakan sore yang membuatnya tersenyum puas. Adalah seorang penjual gorengan yang masih sangat mudah. Dipinggir jalan itu, selalu kujumpai dia mengais rejeki hampir setiap malam. Dan sayapun selalu membeli molen pada pedagang tersebut setiap kali saya ingin. Tepatnya di area trotoar ditengah-tengah ATM BNI dan ATM BRI Unit Pasar Paing Kota Kediri.
Sepulang dari kampus, saya langsung menuju ATM BRI di lokasi tersebut. Pinginnya makan gorengan molen malam itu. Setelah mengambil uang, saya langsung menghapiri pedagang molen yang hanya beberapa meter dari tempat saya mengambil uang.
"Wes Mule (ya pulang)" terdengar suara pedagang gorengan sambil berlari dengan penuh girang menghampiri saya. Rupanya, saya adalah orang terakhir yang akan menghabisi gorengan-gorengannya. Tersisa 12 potong molen yang ada digerobaknya. Kemudian iya menawari saya 12 potong molen seharga Rp. 5.000. Biasanya, sepotong molen dihargai dengan Rp. 500. Mulanya saya hanya ingin membeli 4 potong, tapi karena melihat ia yang sudah senang untuk lebih cepat pulang maka saya membeli semuanya seharga Rp. 5000 sesuai yang ditawarkan. Maklum hati ini cepat luluh....... (hehehe,,, lebail.com)
Setelah itu, saya sempat berpikir, anak istrinya mungkin sudah menunggu beliau dirumah. Demi untuk mencari lima ratus, satu ribu, dua ribu, setiap malam ia dengan setia menunggu dan bertanya-tanya "adakah seseorang yang akan datang lagi membeli gorengan-gorenganku ini.....?". Dan sore ini ada kesenangan tersendiri, karena ia lebih cepat pulang untuk menjumpai mereka yang menunggu dirumah.
Rencana Tuhan, Indah Pada Waktunya
Baca Selengkapnya
Kata orang, jika kamu pernah ke jogjakarta maka pasti tahu tentang malioboro. Malioboro merupakan tempat persinggan yang pasti tak terlewati oleh para wisatawan tujuan Jogjakarta. Tujuan wisata anda ke borobudur tapi anda pasti akan mengunjungi malioboro sebagai tempat akhir wisata anda, begitupun pantai Parantritis, Candi Borobudur, Candi Prambanan dan lain-lain. Pasti ujung-ujungnya Malioboro. Sebuah tempat yang merupakan ikon kota Jogjakarata.
Liburan saya kali inipun begitu. Saat hendak kembali ke kediri keesokan harinya, ajakan saya untuk mengujungi Malioboropun tak mau terlewatkan. Tujuan saya, yaitu pingin beli oleh-oleh khas jogjakarta berupa kaos. Ya, pusat oleh-oleh khas jogjakarta dapat kita temukan disini.
Pemandangan yang tak jauh berbeda dari kunjungan-kunjungan saya sebelumnya. Banyak pedang kaki lima yang memenuhi trotoar disepanjang pertokoan. Begitupun para pengunjung yang begitu padat sehingga kamipun harus berdesakan diisepanjang area trotoar. Banyak pilihan oleh-oleh terdapat disana. mulai dari berbagai jenis pakaian, batik, kaos dagadu, soveiner, kerajinan tangan, bakpia dan lain-lain. Pokoknya surganya oleh-oleh khas jogja ada disini.
Sekian saja cerita pendek saya. jadi yang belum pernah ke jogja, jangan lupa ke Malioboro jika hendak kesana suatu saat. jangan bilang udah pernah ke Jogjakarta jika belum pernah ke malioboro. hahaha___
Baca Selengkapnya
Jika bicara tentang Bali, pasti yang ada dalam pikiran kita adalah keindahan pantai pulau itu. Setiap orang pasti pingin untuk bisa berlibur disana suatu saat.
Bulan September 2010 merupakan giliran saya untuk berlibur di Bali. Sebetulnya rencana ini sangat mendadak . Awalnya saya ingin libur ke Jogja, tapi saya lebih memilih Bali karena Jogja sudah sering saya kunjungi. Kebetulan ada salah seorang teman yang sedang melanjutkan pendidikan di Universitas Warmadewa dempasar Bali. Jadi, tak ada keraguan untuk bisa kesana.
Siang itu saya ke agen bus untuk cek harga ticket. Wow, harga tiket malah naik 100%. Kebetulan saat itu bertepatan dengan idul fitri. Biarpun harganya meningkat tapi planing saya tetap, harus berangkat hari ini. Ticketpun dibeli dan sesegera saya kembali ke kontrakan yang tak jauh dari agen bus untuk prepare perlengkapan yang akan dibawah.
*********
Waktunya untuk berangkat ke agen bus setengah jam sebelum jam keberangkatan. Syukur, setelah disana ada salah satu adik tingkat sekampus yang juga akan ke bali dengan bus yang sama. Jadi, kami dapat ngobrol selama dalam perjalanan sehingga tak akan ada rasa bosan ataupun sepi.
Tepat pukul 14.00 WIB, bus berangkat dari Kediri ke Surabaya. Setalah di surabaya kok masih tunggu penumpang lagi…??? Ihhhhhh, lama juga. Sekitar 2 jam di terminal Bungur. Capek, bosan dan juga tak tahan untuk melanjutkan perjalanan.
*******
Pukul 18.30 WIB, waktunya untuk melanjutkan perjalanan. Selama ini, saya salah persepsi. Ternyata dari Surabaya ke tempat penyebrangan sangat jauh. Harus melewati beberapa kabupaten dijawa timur. Dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Sitobondo, dan berakhir di tempat penyebrangan Bayuwangi. Saat itu kami makan malam di sebuah restoran di Probolinggo. Setelah perut kami terisi, perjalanan dilanjutkan. Tak semulus yang dibayangkan. Ketika melewati kabupaten probolinggo banyak warga yang bersiap-siap untuk menyambut hari idul fitri. Kebetulan saat melewati tempat itu, waktu hampir dinihari alias pergantian hari. Kota Probolinggo saat itu dibanjiri oleh ribuan manusia yang mengakibatkan perjalanan kami terhambat . Bunyi petasan tak luput dari perhatian saya saat itu. Driver bus dan kami pun harus bersabar untuk bisa melewati kota Probolinggo.
Akhirnya kami bisa tiba di tempat penyebrangan. Owwwwww, seumur hidup, saya belum pernah numpang very atau sejenisnya. Maklum dari SD hingga SMA saya tidak pernah merantau diluar pulau. Waktu kuliapun saya menggunakan transportasi udara dari Kupang ke Juanda, Surabaya dan melanjutkan perjalanan darat ke tempat saya kuliah sekarang (Kediri). Kali ini saya bisa merasakan dan menikmati perjalanan air walau hanya setengah jam saja. Pokoknya ini kali pertama menggunakan transportasi laut. Hari bersejarah bagi saya. Hahahahaha…
Walaupun tengah malam tapi suasana diatas very sangat terasa keramaiannya. Ada yang potretan, menikmati hidangan kopi, mie dan ada pula yang menikmati suasana lautan yang menghubungi Pulau Jawa dan Pulau Bali itu. Tak terasa very berhenti didermaga. Saya ikut turun bersama penumpang lainnya. Dan pijakan kaki pertama di Pulau Bali saat itu menjadi nyata.
*******
Menunggu antrian bus dari kapal very. Dan saatnya untuk melintasi dataran Pulau Bali menuju tempat tujuan “Denpasar”. Beberapa menit dalam perjalanan, rasa ngantuk mulai kumat. Dan saya tidak sadarkan diri (tidur) hingga tiba di terminal Ubung Denpasar.
******
Setelah di terminal Ubung saya langsung menghubungi teman saya. Iapun segera membalas sms dengan alamat tempat tinggal tempat tinggalnya. Numpang taksi dan beberapa menit kemudian saya tiba ditempatnya. Syukur, tiba dengan selamat.
*****
Hari pertama kami mengunjungi mol untuk beli makanan . Setelah itu kepasar. Hari kedua, saya mulai berjalan lebih jauh lagi dan ini lebih nikmat. Kami mengunjungi keluarga-keluarga temanku itu yang telah lama tinggal disana. Yang paling menyenangkan adalah ketika kami mengunjungi om dan tante sobatku itu. Disana ada warung RW (jualan daging anjing). Warung itu menyiapkan makanan ala Timor. Daging anjing dan sayur dari nangkah. Nama warung itu RW ATAMBUA. Laris juga, dan kebanyakan pelangannya adalah orang-orang dari NTT. Kamipun turut ambil bagian dalam santap siang di RW Atambua. Menikmati makanan yang sangat jarang ditemukan dirantauan ini. Daging anjing dan sayur nangka. Enak dan nikmat. Pinginnya makan terus. Dari siang hingga sore, kami berdua dirumah keluarga itu.
Sore haripun tiba. Menyenangkan jika berada dipantai saat sore hari. Saatnya untuk ke Pantai Sanur. Kebetulan jarak dari rumah keluarga itu dan Pantai Sanur tidak begitu jauh. Sesegera, kami beranjak kesana. Tak kala ramainya dengan Pantai Paris di jogjakarta. Banyak wistawan lokal dan asing dapat dijumpai disana. Antrian panjang kendaraanpun tak terhindarkan untuk memasuki pantai itu. Panorama pantainya indah dan ramai banyak dikunjungi wisatawan sore itu. Duduk sambil menikmati jagung bakar dipinggir pantai. Kali ini saya tidak bisa mandi soalnya pakaian ganti tak dibawah. Beberapa menit kemudian kami segera kembali kerumah kost teman saya.
Hari ketiga saya tidak bisa kemana-mana. Maklum teman saya itu lagi ikut kegiatan dikampusnya. Ini adalah hari terakhir ditempatnya soalnya besok saya akan ke Kute Bali. Kebetulan ada beberapa teman saya yang telah lebih dahulu berlibur ke Kute, Bali. Ada seorang teman yang mengajak saya ketempat kakanya. Malam itu saya ngobrol via sms dan minta alamat dimana tempat iya berlibur. Saya pergi keesokan harinya. Orang buta, tidak tahu akan situasi disana tapi malah nekad untuk pergi. Ya, hanya bermodal nekad saya pergi. Pentingnya harus tahu alamat.Kemana dan dimanapun kita pergi intinya kita tahu akan alamat tempat tinggal orang yang ditujuh. Benar…! Tidak salah, saya diantar taksi tepat digang (lorong) kakanya temanku. Saya berjalan menyusuri gang itu. Syukur, langkah demi langkah , rumah demi rumah saya lewati dan akhirnya saya menemukan temanku sedang nongkrong di depan rumah. Lagi-lagi wajahnya tampak seperti belum percaya akan keberadaan saya disana.
******
Sore itu kami berjalan menyusuri Kuta Bali. Kali ini sangat lain dari yang lain. Terasa seperti berlibur ke Eropa atau Australia. Soalnya banyak wisatawan asing disana. Tak lupa kami mengujungi pantai Kute dan disana kami juga menjumpai teman-teman lain yang juga teman kuliah di Kediri. Jadi, bisa bareng sambil menikmati suasana dan pemandangan disekitar Pantai Kute.
Baca Selengkapnya
Hotel/Penginapan di Kefamenanu-TTU
Sebagai orang asli Kefamenanu-Timor Tengah Utara , Nusa Tenggara Timur , disini saya mau review daftar Hotel yang ada di Kefamenanu. Dengan harapan anda tidak kebingungan mencari tempat inap saat liburan atau tugas dari kantor di kota kecil ini. Hotel yang dimuat dalam blog ini berupa data yang mencakup tarif hotel, alamat dan nomor telepon Hotel. Semoga kehadiran blog ini dapat memudahkan anda yang akan atau ingin bertandang ke Kota Kefamenanu.
Harga Hotel di yang disebutkan dalam tulisan ini hendaknya hanya digunakan sebagai panduan, karena bisa berubah setiap saat. Untuk memperbarui data hotel yang telah ada dalam daftar, atau menambahkan data hotel baru, silahkan gunakan kotak komentar yang ada di bawah tulisan.
Hotel Livero
Alamat: Jalan El Tari, Kefamenanu
Telpon: (0388) 2332222
Hotel Livero adalah hotel terbaru dan termegah di Kefamenanu. Hotel ini terletak di Jalan El Tari, di tepi barat kota sekitar 200 meter dari terminal bus kota kefamenanu. Hotel ini masuk kategori bintang dengan harga kamar terendah mulai dari Rp. 200.000 hingga RP. 600.000. Wajar karena hotel berlantai 3, dengan gaya minimalis elegan ini menyerupai hotel-hotel berbintang di kota besar lainnya. Fasilitas yang disediakan antara lain Karaoke hall, karaoke room, pijit Tradisional serta Hotspot.
Hotel Cendana
Alamat: Jl Sonbai, Kefamenanu.
Telpon: (0388) 31168.
Hotel yang relatif tenang dan sejuk untuk istirahat ini terletak disebelah timur kota Kefamenanu, memiliki 30 kamar inap, yang terbagi dalam kamar VIP Plus, VIP, Standard serta Economy. Harga dipatok mulai dari Rp. 75000 – Rp. 200.000.
Hotel Ariesta
Alamat: Jalan Basuki Rachmat, 29.
Telepon: +62 393 21007.
Saat ini Hotel Ariesta memiliki 42 kamar inap, yang terbagi dalam beberapa type dengan harga berkisar Rp. 65.000 hingga Rp. 250.000. Hotel ini juga masih dalam taraf pengembangan pada area yang sama, diantaranya beberapa kamar inap, aula, serta room karaoke.
Hotel Frawijaya
Alamat: Jl. Kakatua
Telpon: (0388) 31697
Rata-rata penawaran per kamar mulai dari Rp 85.000-Rp 200.000
Hotel Setangkai
Alamat: Jl. Ketumbar
Telpon (0388) 31217
Hotel Sederhana
Alamat: Jl. Patimura
Telpon: (0388) 31069
Hotel La’a Manekat
Alamat: Jl. Noemeto
Telpon: (0388) 31735
Hotel Soko Windu
Alamat: Jl. Ketumbar
Telpon: (0388) 31835
Harga atau tarif dapat berubah sewaktu - waktu, jadi sebelumnya anda harus memastikan lagi terlebih dahulu melalui telepon hotel yang telah di sebutkan di atas.
Baca Selengkapnya
Harga Hotel di yang disebutkan dalam tulisan ini hendaknya hanya digunakan sebagai panduan, karena bisa berubah setiap saat. Untuk memperbarui data hotel yang telah ada dalam daftar, atau menambahkan data hotel baru, silahkan gunakan kotak komentar yang ada di bawah tulisan.
Hotel Livero
Alamat: Jalan El Tari, Kefamenanu
Telpon: (0388) 2332222
Hotel Livero adalah hotel terbaru dan termegah di Kefamenanu. Hotel ini terletak di Jalan El Tari, di tepi barat kota sekitar 200 meter dari terminal bus kota kefamenanu. Hotel ini masuk kategori bintang dengan harga kamar terendah mulai dari Rp. 200.000 hingga RP. 600.000. Wajar karena hotel berlantai 3, dengan gaya minimalis elegan ini menyerupai hotel-hotel berbintang di kota besar lainnya. Fasilitas yang disediakan antara lain Karaoke hall, karaoke room, pijit Tradisional serta Hotspot.
Hotel Cendana
Alamat: Jl Sonbai, Kefamenanu.
Telpon: (0388) 31168.
Hotel yang relatif tenang dan sejuk untuk istirahat ini terletak disebelah timur kota Kefamenanu, memiliki 30 kamar inap, yang terbagi dalam kamar VIP Plus, VIP, Standard serta Economy. Harga dipatok mulai dari Rp. 75000 – Rp. 200.000.
Hotel Ariesta
Alamat: Jalan Basuki Rachmat, 29.
Telepon: +62 393 21007.
Saat ini Hotel Ariesta memiliki 42 kamar inap, yang terbagi dalam beberapa type dengan harga berkisar Rp. 65.000 hingga Rp. 250.000. Hotel ini juga masih dalam taraf pengembangan pada area yang sama, diantaranya beberapa kamar inap, aula, serta room karaoke.
Hotel Frawijaya
Alamat: Jl. Kakatua
Telpon: (0388) 31697
Rata-rata penawaran per kamar mulai dari Rp 85.000-Rp 200.000
Hotel Setangkai
Alamat: Jl. Ketumbar
Telpon (0388) 31217
Hotel Sederhana
Alamat: Jl. Patimura
Telpon: (0388) 31069
Hotel La’a Manekat
Alamat: Jl. Noemeto
Telpon: (0388) 31735
Hotel Soko Windu
Alamat: Jl. Ketumbar
Telpon: (0388) 31835
Harga atau tarif dapat berubah sewaktu - waktu, jadi sebelumnya anda harus memastikan lagi terlebih dahulu melalui telepon hotel yang telah di sebutkan di atas.
Dibalik Keindahan Air Terjun Dolo
Rabu 16 november 2011, saya kembali berwisata ke air terjun dolo untuk ke tiga kalinya. Mulanya saya benar-benar tidak menginginkan untuk kembali berwisata ke tempat itu. Mengingat waktu wisata pertama, kaki saya sampai gementar saat melintasi tangga yang kata orang sichhh 1000 lebih anak tangga untuk bisa capai lokasi air terjun. Jadi kalo pergi pulang 2000 lebihlahhhh....!!! Tapi karena bosan di kost, akhirnya saya ikut bareng.
Perjalanan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Nasi 1 reskuker, 3 ekor ikan mentah kami bawah. Juga peralatan dan perlengkapan pangang. Boleh dibilang wisata kali ini adalah wisata kuliner. Dengan personil, saya, K" Ema, K" Iren, K Okto, K" Andi, K" Borgol, K" Vacko dan K" willi (Kulianya di Jogja, kebetulan lagi treveling ke Kota Tahu. Jadi, K willy pingin terapi betis. "Iya kah...????" Iya kaleeeeee). Empat sepeda motor vs 8 manusia. hehehehe................
Berangkat sekitar pukul 13.00 WIB, kami memulai rute perjalanan dari Kampung Dalam (tempat kontrakan kami) menuju air terjun dolo. Jaraknya sekitar 25 km dari kota kediri. Tepatnya di Dusun Basuki Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri.
Sepanjang jalan, pemandangan yang begitu indah dapat kami nikmati. Pegunungan yang ditumbuhi beribu-ribu pohon cemara, dengan teras yang ditata rapi oleh para petani mengintari pepohonan. Pemandangan ini tak pernah membosankan untuk dipandang. Betapa giatnya para petani wilayah ini sehingga pegunungan dengan berbagai jenis tanaman begitu tertata rapi dialam itu. Pemandangan yang serupa belum pernah saya temui ditempat lain.
Banyak tikungan dan belokan tajam yang harus dilalui. Memang asyik tapi berbahaya bagi pengendara. Tak bisa dibayangkan jika sesuatu terjadi dengan kendaraan atau kelalaian pengendara. Mungkin sangat buruk jika terjadi.
Perjalan kami hampir tiba di tempat tujuan. Kali ini kami lebih melihat, bagaimana hijauhnya alam itu. Alam indonesia, alam kediri, alam dolo sungguh masih hijau. Pegunungan yang mengelilingi air terjun dolo sangat indah. Di Puncak pegunungan terlihat awan putih tebal. Hawanya sangat dingin. Wow, begitu dinginnya hawa dolo.
Setelah tiba, kami harus membutuhkan 20 menit lebih untuk menuju lokasi air terjun. Seperti yang sudah saya bilang diatas. Kali ini kami harus berjalan tanpa kendaraan. Jangan mencoba jika ingin masih hidup. Soalnya bukan aspal, bukan jalan raya. Hanya tangga dengan beribu-ribu anakan tangga. Mampus ni. Orang kupang bilang "beta bisa mati badiri ni"....
Mau tak mau harus. Lucunya, belum setengah perjalanan, keluh, kesah, kesut mulai terdengar. hahahaha. Waduh, mending duduk saja dulu. Jalan sambil duduk. Begitu dan begitu terus. Yang seharusnya 10 menit, akhirnya harus 20 menit lebih. Memang, tak mampu. Hanya arti kebersamaan yang memampukan kami.
Selesai sudah rintangan ini. Akhirnya tiba dengan agak kepincangan. Syukurrrrrrrrrrrrrrrrr.......................!!!
Lagsung ke tujuan utama kami, panggang ikan terus makan bareng. Kayu bakar, dan perlengkapan untuk panggang, sesegera kami siapkan. Setelah itu, 1 jam lebih 3 ekor ikan dapat selesai dipanggang sambil poto-poto. Lumayan lama soalnya kayu bakarnya pada lembab semua.
Kini saatnya untuk makan bersama. Ternyata ada sambal dengan tomat, bawang merah, dan cabe yang dibuat K" iren. Sambal khas orang timor memang begitu. Tanpa di goreng tapi rasanya ingin makan sambal tanpa nasi. Semua makanan habis dilalap tanpa sisa. Hanya tulang ikan yang tersisa.
Setelah hampir 2,5 jam di lokasi air terjun, kamipun harus kembali. Saya sempat berpikir "seandainya saya seperti spiderman, mungkin tangga ini tidak saya lewati lagi". Sayangnya, hanya diangan-angan. Huffff, kembali lagi melewati tangga-tangga itu. Tapi akhirnya...... We can. Dua kali lipat, 1000 tangga dapat kami lewati dengan susah payah.
Langsung janji: Cukup untuk terakhir kali ke dolo. Bayangkan saja, sampai saat saya menulis postingan inipun tumit saya masih kesakitan.
Tobat......tobat......!!!
Dan kamipun kembali_____
Berikut Foto-Foto yang diambil hari itu:
Capek naik turun tangga. Istirahat sebentar
Hijau alam dolo
Pohon yang manarik perhatian saya. Pohon apa ya? Tak tahu namanya.
Air terjun dolo.
Narsis bareng, dari kiri ke kanan atas: K Willy, K Andy, K Iren, K Borgol, K Okto, K Vacko
Demi Satu Ribu
Pedagang gorengan sangat mudah ditemukan, terutama saat menjelang malam hari. Hampir disetiap kota, kita pasti menemukan pedagang-pedagang gorengan. Lokasi yang paling banyak ditemukan adalah dipinggir jalan.
Sore ini mungkin merupakan sore yang membuatnya tersenyum puas. Adalah seorang penjual gorengan yang masih sangat mudah. Dipinggir jalan itu, selalu kujumpai dia mengais rejeki hampir setiap malam. Dan sayapun selalu membeli molen pada pedagang tersebut setiap kali saya ingin. Tepatnya di area trotoar ditengah-tengah ATM BNI dan ATM BRI Unit Pasar Paing Kota Kediri.
Sepulang dari kampus, saya langsung menuju ATM BRI di lokasi tersebut. Pinginnya makan gorengan molen malam itu. Setelah mengambil uang, saya langsung menghapiri pedagang molen yang hanya beberapa meter dari tempat saya mengambil uang.
"Wes Mule (ya pulang)" terdengar suara pedagang gorengan sambil berlari dengan penuh girang menghampiri saya. Rupanya, saya adalah orang terakhir yang akan menghabisi gorengan-gorengannya. Tersisa 12 potong molen yang ada digerobaknya. Kemudian iya menawari saya 12 potong molen seharga Rp. 5.000. Biasanya, sepotong molen dihargai dengan Rp. 500. Mulanya saya hanya ingin membeli 4 potong, tapi karena melihat ia yang sudah senang untuk lebih cepat pulang maka saya membeli semuanya seharga Rp. 5000 sesuai yang ditawarkan. Maklum hati ini cepat luluh....... (hehehe,,, lebail.com)
Setelah itu, saya sempat berpikir, anak istrinya mungkin sudah menunggu beliau dirumah. Demi untuk mencari lima ratus, satu ribu, dua ribu, setiap malam ia dengan setia menunggu dan bertanya-tanya "adakah seseorang yang akan datang lagi membeli gorengan-gorenganku ini.....?". Dan sore ini ada kesenangan tersendiri, karena ia lebih cepat pulang untuk menjumpai mereka yang menunggu dirumah.
Rencana Tuhan, Indah Pada Waktunya
Go To Simpang Lima Gumul-----> Romanisti Sub Reg Kediri
Dengan sepeda motor, saya berangkat menyusul teman-teman Romanisti Sub Reg Kediri di Simpang lima gumul (SLG). Hari ini merupakan Gatering pertama RI (Romanisti Indonesia Sub Kediri). Yang pertam kali karena umur komunitas pencinta As Roma di kediri ini memang masih sangat mudah. Kurang lebih 1, 5 bulan sejak kompetisi seri A 2011/2012 digulir bulan september lalu.
Semangat demi As Roma Tercinta, Pokoknya semua kegiatan Romanisti Sub Reg kediri harus saya turut ambil bagian. Itu tekad saya sebelum bergabung bersama RI Sub Kediri. Meskipun merupakan komunitas pencinta team sepakbola tapi komunitas Romanisti Indonesia mempunyai managemen yang kuat dan bagus. Bukan komunitas asal-asalan.
Ehhh, kembali ketopik semula. Pukul 15.30, saya berangkat dari kontarakan menuju simpang lima gumul. Tak ketinggalan atribut As Roma saya kenakan. Itulah ciri khas saya. Dimana-mana dan kemana-mana walaupun diluar kegiatan Romanisti saya selalu menggunakan satu tanda khas As Roma. Kalo ke kampus, ya cuman pin. hehehe
Jarak yang cukup jauh antara kontarakan dengan simpang lima gumul membuat perjalanan saya termakan waktu hingga 10-15 menit. Tidak jauh amat. Kalo pake angkot, ya pasti lama. Angkotkan masih muter apalagi becak. Pasti yang dayung becak nyerah. ssstttt.....
Parkir sepeda motor diarea parkir. Kemudian berjalan sendiri di tengah keramaian pengunjung untuk mencari sobat-sobat saya. Send Message Serivice via HP i do denga bertanya "dimana kalian?" Ohhh, ternyata sobat-sobatku sudah di area SLG (Simpang Lima Gumul). Sayapun bergegas kesana.
Untuk menuju ke area monumen SLG, maka saya harus melewati sebuah lorong ruang bawa tanah. Melangkah sendirian melewati lorong yang di penuhi cahaya lampu listrik, hingga beberapa meter untuk bisa tiba diarea monumen.
Sore yang mengasyikan. Akhirnya saya bisa bertemu sobat-sobat saya untuk membahas komunitas kami kedepan, menjalin keakraban diantara sesama anggota dan orientasi tentang yel-yel yang akan dinyanyikan saat As Roma berlaga. Itulah agenda kami. Ya, semuanya kami lakukan dalam suasana santai, rileks dan akrab.
Malam ini, laga DDC untuk musim 2011/2012. DDC??? DERBY DELLA CAPITALE,. Sebuah derby yang mempertemukan tim kesayangan kami AS ROMA dengan tim sekota lazio. Derby yang sangat bergengsi di ibukota itali. Kami juga sedikit membahas tentang derby ini dan berharap untuk bisa menang. Sambil bernyanyi iwak peyek lagunya sagita tapi syairnya diganti dengan kalimat-kalimat ejekan terhadap lazio musuh abadi Roma dan juga Romanisti. Asyik, makin seru......!!!
Bukan hanya kami saja di sekitar area monumen. Disana banyak saya jumpai berbagai kumunitas anak muda seperti komunitas dencer yang sedang berlatih. Ada juga komunitas motor dan lain-lain. Banyak, dan ramai. SLG, memang sangat mengasyikan saat sore hari.
Baca Selengkapnya
Semangat demi As Roma Tercinta, Pokoknya semua kegiatan Romanisti Sub Reg kediri harus saya turut ambil bagian. Itu tekad saya sebelum bergabung bersama RI Sub Kediri. Meskipun merupakan komunitas pencinta team sepakbola tapi komunitas Romanisti Indonesia mempunyai managemen yang kuat dan bagus. Bukan komunitas asal-asalan.
Ehhh, kembali ketopik semula. Pukul 15.30, saya berangkat dari kontarakan menuju simpang lima gumul. Tak ketinggalan atribut As Roma saya kenakan. Itulah ciri khas saya. Dimana-mana dan kemana-mana walaupun diluar kegiatan Romanisti saya selalu menggunakan satu tanda khas As Roma. Kalo ke kampus, ya cuman pin. hehehe
Jarak yang cukup jauh antara kontarakan dengan simpang lima gumul membuat perjalanan saya termakan waktu hingga 10-15 menit. Tidak jauh amat. Kalo pake angkot, ya pasti lama. Angkotkan masih muter apalagi becak. Pasti yang dayung becak nyerah. ssstttt.....
Parkir sepeda motor diarea parkir. Kemudian berjalan sendiri di tengah keramaian pengunjung untuk mencari sobat-sobat saya. Send Message Serivice via HP i do denga bertanya "dimana kalian?" Ohhh, ternyata sobat-sobatku sudah di area SLG (Simpang Lima Gumul). Sayapun bergegas kesana.
Untuk menuju ke area monumen SLG, maka saya harus melewati sebuah lorong ruang bawa tanah. Melangkah sendirian melewati lorong yang di penuhi cahaya lampu listrik, hingga beberapa meter untuk bisa tiba diarea monumen.
Sore yang mengasyikan. Akhirnya saya bisa bertemu sobat-sobat saya untuk membahas komunitas kami kedepan, menjalin keakraban diantara sesama anggota dan orientasi tentang yel-yel yang akan dinyanyikan saat As Roma berlaga. Itulah agenda kami. Ya, semuanya kami lakukan dalam suasana santai, rileks dan akrab.
Malam ini, laga DDC untuk musim 2011/2012. DDC??? DERBY DELLA CAPITALE,. Sebuah derby yang mempertemukan tim kesayangan kami AS ROMA dengan tim sekota lazio. Derby yang sangat bergengsi di ibukota itali. Kami juga sedikit membahas tentang derby ini dan berharap untuk bisa menang. Sambil bernyanyi iwak peyek lagunya sagita tapi syairnya diganti dengan kalimat-kalimat ejekan terhadap lazio musuh abadi Roma dan juga Romanisti. Asyik, makin seru......!!!
Bukan hanya kami saja di sekitar area monumen. Disana banyak saya jumpai berbagai kumunitas anak muda seperti komunitas dencer yang sedang berlatih. Ada juga komunitas motor dan lain-lain. Banyak, dan ramai. SLG, memang sangat mengasyikan saat sore hari.
Malioboro Surganya
Kata orang, jika kamu pernah ke jogjakarta maka pasti tahu tentang malioboro. Malioboro merupakan tempat persinggan yang pasti tak terlewati oleh para wisatawan tujuan Jogjakarta. Tujuan wisata anda ke borobudur tapi anda pasti akan mengunjungi malioboro sebagai tempat akhir wisata anda, begitupun pantai Parantritis, Candi Borobudur, Candi Prambanan dan lain-lain. Pasti ujung-ujungnya Malioboro. Sebuah tempat yang merupakan ikon kota Jogjakarata.Liburan saya kali inipun begitu. Saat hendak kembali ke kediri keesokan harinya, ajakan saya untuk mengujungi Malioboropun tak mau terlewatkan. Tujuan saya, yaitu pingin beli oleh-oleh khas jogjakarta berupa kaos. Ya, pusat oleh-oleh khas jogjakarta dapat kita temukan disini.
Pemandangan yang tak jauh berbeda dari kunjungan-kunjungan saya sebelumnya. Banyak pedang kaki lima yang memenuhi trotoar disepanjang pertokoan. Begitupun para pengunjung yang begitu padat sehingga kamipun harus berdesakan diisepanjang area trotoar. Banyak pilihan oleh-oleh terdapat disana. mulai dari berbagai jenis pakaian, batik, kaos dagadu, soveiner, kerajinan tangan, bakpia dan lain-lain. Pokoknya surganya oleh-oleh khas jogja ada disini.
Sekian saja cerita pendek saya. jadi yang belum pernah ke jogja, jangan lupa ke Malioboro jika hendak kesana suatu saat. jangan bilang udah pernah ke Jogjakarta jika belum pernah ke malioboro. hahaha___
Alun-alun Selatan, Kota Jogyakarta
Tak pernah bosan mengunjungi Jogyakarta. Kota yang sangat kukagumi. Banyak kampus terdapat disana. Kaya akan tempat wisata sehingga banyak menarik perhatian wisatawan lokal begitupun wisatawan-wisatawan asing yang tak mau ketinggalan mengunjungi kota ini. Kota yang penuh budaya pula. Benar kalo Jogjakarta diberi julukan kota Pelajar, kota wisata dan kota budaya.
Baca Selengkapnya
Lagi-lagi kejogja untuk yang kelima kalinya. Ya, kota yang paling banyak saya kunjungi selama kuliah dipulau Jawa (Lota Kediri_Jawa Timur). Biarpun jarak antara kediri dan jogjakarta yang begitu jauh tapi saya tak pernah bosan untuk mengunjungi kota ini. Selain mengunjugi sodara dan teman-teman saya disana, situasi dan keadaan kota ini sangat terpikat untuk menghabiskan masa liburan saya di sana.
Kali ini saya mengunjungi teman SMP saya tempo dulu yang sedang melanjutkan studinya dijogyakarta. Asyik, akhirnya berjumpa kembali setelah sekian tahun. Bisa bernostalgia tentang masa remaja dulu. Lucu jika mengenang kembali masa-masa itu.
Malam kedua yang kebetulan malam minggu. Saya bersama teman-teman mengelilingi kota jogja. Seperti liburan saya yang terdahulu, kami melewati banyak tempat-tempat santai/nongkrong. Malioboro, alun-alun utara, alun-alun selatan yang sangat ramai malam itu. Kamipun duduk bersantai bersama sambil menikmati kopi ala jogja, jagung bakar dan roti bakar.
Sebuah permainan unik dengan menutup mata dengan tujuan memasuki celah 2 pohon beringin ditengah-tengah alun-alun selatan. Kali ini saya tidak sempat berperan dalam permainan ini. Tapi saya pernah pada kunjungan saya yang ke4 di kota jogja. Rupanya permainan ini sudah mentradisi dan memikat banyak pengunjung untuk berperan serta dan berjuang memasuki kedua celah beringin itu. Sepintas memang muda tapi setelah mencoba, banyak yang berbelok arah. Ada yang kesamping kiri dan kanan, adapun yang berbalik arah 90 derajat/kembali kebelakang. Sebuah permainan yang mengundang tawa hingga perut saya sakit ketika saya dan teman-teman mencoba pada kunjungan saya sebelumnya dan ak kala lucu ketika menyaksikan para mengunjung malam itu.
Dialun-alun selatan banyak pula pedagang asongan dan banyak pengamen dapat dijumpai disana. Ada dua hal unik yang kujumpai diantara sekian banyak pengamen yang ada disana. Seorang ibu yang menyanyikan lagu balada. Judulnya sich tidak begitu hafal. Pokoknya ada lirik lagu itu yang berbunyi "jembatan merah". Dengan menjinjing sebuah kain putih yang tak tahu apa isinya, si ibu tak henti-henti berkeliling mengeluarkan suaranya demi untuk mendapatkan satu ratus, lima ratus, ataupun saturibu/duaribu dari para pengunjung demi membekali perut dan hidunya sehai-hari. Yang lebih unik lagi. Sekelompok pengamen yang membawa gitar, gendrang yang berpantunkan aliran musik jazz. Seorang cowok dan cewek yang sedang nongkrong juga ikut menyumbangkan masing-masing sebuah lagu dengan diiringi musik dari sekelompok pengamen itu. Ya, persembahan lagu yang sangat indah terdengar beserta bunyi musik dari kelompok pengamen itu. Jarang kujumpai sehingga unik buat saya yang baru mendengar.
Kali ini saya mengunjungi teman SMP saya tempo dulu yang sedang melanjutkan studinya dijogyakarta. Asyik, akhirnya berjumpa kembali setelah sekian tahun. Bisa bernostalgia tentang masa remaja dulu. Lucu jika mengenang kembali masa-masa itu.
Malam kedua yang kebetulan malam minggu. Saya bersama teman-teman mengelilingi kota jogja. Seperti liburan saya yang terdahulu, kami melewati banyak tempat-tempat santai/nongkrong. Malioboro, alun-alun utara, alun-alun selatan yang sangat ramai malam itu. Kamipun duduk bersantai bersama sambil menikmati kopi ala jogja, jagung bakar dan roti bakar.
Sebuah permainan unik dengan menutup mata dengan tujuan memasuki celah 2 pohon beringin ditengah-tengah alun-alun selatan. Kali ini saya tidak sempat berperan dalam permainan ini. Tapi saya pernah pada kunjungan saya yang ke4 di kota jogja. Rupanya permainan ini sudah mentradisi dan memikat banyak pengunjung untuk berperan serta dan berjuang memasuki kedua celah beringin itu. Sepintas memang muda tapi setelah mencoba, banyak yang berbelok arah. Ada yang kesamping kiri dan kanan, adapun yang berbalik arah 90 derajat/kembali kebelakang. Sebuah permainan yang mengundang tawa hingga perut saya sakit ketika saya dan teman-teman mencoba pada kunjungan saya sebelumnya dan ak kala lucu ketika menyaksikan para mengunjung malam itu.
Dialun-alun selatan banyak pula pedagang asongan dan banyak pengamen dapat dijumpai disana. Ada dua hal unik yang kujumpai diantara sekian banyak pengamen yang ada disana. Seorang ibu yang menyanyikan lagu balada. Judulnya sich tidak begitu hafal. Pokoknya ada lirik lagu itu yang berbunyi "jembatan merah". Dengan menjinjing sebuah kain putih yang tak tahu apa isinya, si ibu tak henti-henti berkeliling mengeluarkan suaranya demi untuk mendapatkan satu ratus, lima ratus, ataupun saturibu/duaribu dari para pengunjung demi membekali perut dan hidunya sehai-hari. Yang lebih unik lagi. Sekelompok pengamen yang membawa gitar, gendrang yang berpantunkan aliran musik jazz. Seorang cowok dan cewek yang sedang nongkrong juga ikut menyumbangkan masing-masing sebuah lagu dengan diiringi musik dari sekelompok pengamen itu. Ya, persembahan lagu yang sangat indah terdengar beserta bunyi musik dari kelompok pengamen itu. Jarang kujumpai sehingga unik buat saya yang baru mendengar.
Terlintas dalam pikiran saya: "Tuhan memang pandai merangkai nasib manusia. DIA menciptakan kesenangan dan kesedihan datang berimpit. Saling melengkapi, tanpa sebuah syarat apapun.
Adapula kareta dayung. Namanya salah apa benar ni....??? Pokoknya kareta yang dijalankan dengan menggunakan dayungan seperti sepeda ontel. Dihiasi dengan lampu warnah-warni dengan berbagai desain gambar. Sumber arus lampunya dari AKI. Kalo tidak salah....! Soalnya saya cuman lihat sepintas. Wowww, kelihatannya indah. Kareta itu disewa oleh para pengunjung untuk mengelilingi ring road alun-alun. Dari anak-anak kecil, dewasa, dan juga orang tua dapat saya lihat menyewa kareta itu.
Setelah beberapa jam bersantai dialun-alun selatan kota Jogjakarta kami segera kembali ke tempat kost teman saya. Sebuah malam yang menyenangkan buat saya dialun-alun selatan kota jogjakarta.
NTT. Dimana?
Hari itu 16 Sepetember 2011. Saya numpang sebuah Bus antar kota (kawan kita) dari depan gang ke nganjuk dan seterusnya berlibur ke jogjakarta. Uupsss, padat penumpang, terpaksa harus berdiri sekitar 1,5 kilometer sebelum menempati sebuah kursi didepan/disamping sopir. Syukur, ketika di terminal Tamanan kota kediri penumpang jadi berkurang. Lega, karena tak merasakan suhu yang begitu panas akibat banyaknya penumpang.
Setelah di Mojoroto kota kediri, ada seorang cewek yang ikut numpang. Kebetulan tepat disamping saya masih ada kursi yang belum ditumpangi. Iapun segera duduk disamping saya. Wah, sepanjang jalan wajahnya belum saya tengok, seperti apa rupa gadis ini...? Yang sempat terlihat bodinya saja. hahahaha..... Maklum, sepanjang perjalanan ngantuk ini belum hilang-hilang, jadinya cuman lihat sebentar terus tertidur lagi. "Siapa suruh semalam tidak tidur?" Hati berkata begitu. hahaha.
"Mas, misi" cewek itu menyapa saya untuk pertama kali. Sayapun kaget dan terbangun dari tidur.
"Tolong mas" sambil membuka kaca jedela bus. "Ohh, iya", jawabku. Sayapun lebih merapat lagi dengan sandaran kursi bus. Ternyata Ia ingin membuang plastik bungkusan salome yang ia nikmati selama perjalanan.
Cewek itupun memulai percakapan dengan saya. "Mas asli mana?". Mungkin wajah saya tak serupa wong (orang) jawa sehingga bukan nama yang ditanyakan pertama. Mau jawab kefa, pasti cewek ini lebih sulit untuk membayangkan. Ahhh, Kupang sajalah. "Kupang mba" jawab saya. "NTT ya?" tanya Cewek itu lagi. "Iya mbak " Saya langsung menjawab.
Perbincangan singkat kami berlanjut. Ehh, diluar dugaan cewek itu tanya "NTT itu di sumatra ya???" Aduuuh, kok Sumatra....???? Jadi bingung saya. Saya berpikir jangan-jangan ada nama NTT yang juga ada di pulau sumatra. Sumatrakan bagian barat indonesia. NTT bagian Timur. Kok dugaannya jauh sekali.... Jangan-jangan cewek ini tidak tamat sekolah dasar. Atukah ia tidak pernah belajar ilmu sosial....??? hehehe.... Ngapain saja ini cewek belajar ilmu sosial. Ketika SD, SMP, SMA kan kita dapat ilmu sosial....... hufff.....
Dan saya mulai menjelaskan letak NTT itu dimana. Lalu Ia bilang "aku lahir dan tinggal di papua waktu kecil. Pindah ke nganjuk waktu SD kelas 4". Ya, mungkin dia tidak mengerti juga di mana NTT karena Papua jauh sama NTT. Tahunya dia itu cuman Papua. Tapi seidaknya tahu. Kan dapat ilmu sosial. Tak apalah maklum. Cewek itu sedang dibangku kuliah di sebuah Poltekes di kota kediri. Mungkin kuliahnya sekarang lebih fokus ke ilmu kesehatan kale, sehingga ilmu-ilmu yang didapat sejak dibangku sekolah hilang semua hahaha..... . Ya, sebidang sama saya. Tapi kok.....????
Sepertinya sudah ada gambaran dalam benaknya, dimana itu NTT. Lalu dia bilang lagi. "Kalo ke Papua kan lewat Maluku terus bontang". Alahhh, saya lebih bingung lagi. "Kok bontang???" Bontangkan di kalimantan. Kalo ke papuakan lewat sulawesi. Mungkin maksud dia sulawesi tapi tidak mengerti dia. "Aduhhh, nilai geografi waktu SMP & SMA berapa ya mba?? Kayanya tidak lebih dari 0 (nol). hahaha..... " Untung tidak saya bilang begitu.
Lagi-lagi penjelasan singkat saya utarakan ke dia. Dari situ baru paham, kalo dia tidak bisa bedakan Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Mampus......... Jadi malas ni. Dari tadi salah melulu.
Setelah di kota nganjuk diapun turun dari kendaraan. Tapi masih ada pertanyaan dalam pikiran saya, "Waktu SD apa dia belajar ilmu sosial juga atau tidak? Soalnya hampir semua semua sekolah dasar di Indonesiakan ada mata pelajaran itu. Lalu waktu SMP, SMA, apa dia dapat Ilmu Geografi atau tidak???" Pertanyaan yang belum sempat saya tanya langsung ke cewek itu. Untung, dia cepat turun. hahaha......
Ternyata banyak orang Indonesia yang belum tahu daerah-daerah di Tanah Air sendiri. Kok miskin ilmu pengetahuan sekali ya.....!!! Kasian juga......
Baca Selengkapnya
Setelah di Mojoroto kota kediri, ada seorang cewek yang ikut numpang. Kebetulan tepat disamping saya masih ada kursi yang belum ditumpangi. Iapun segera duduk disamping saya. Wah, sepanjang jalan wajahnya belum saya tengok, seperti apa rupa gadis ini...? Yang sempat terlihat bodinya saja. hahahaha..... Maklum, sepanjang perjalanan ngantuk ini belum hilang-hilang, jadinya cuman lihat sebentar terus tertidur lagi. "Siapa suruh semalam tidak tidur?" Hati berkata begitu. hahaha.
"Mas, misi" cewek itu menyapa saya untuk pertama kali. Sayapun kaget dan terbangun dari tidur.
"Tolong mas" sambil membuka kaca jedela bus. "Ohh, iya", jawabku. Sayapun lebih merapat lagi dengan sandaran kursi bus. Ternyata Ia ingin membuang plastik bungkusan salome yang ia nikmati selama perjalanan.
Cewek itupun memulai percakapan dengan saya. "Mas asli mana?". Mungkin wajah saya tak serupa wong (orang) jawa sehingga bukan nama yang ditanyakan pertama. Mau jawab kefa, pasti cewek ini lebih sulit untuk membayangkan. Ahhh, Kupang sajalah. "Kupang mba" jawab saya. "NTT ya?" tanya Cewek itu lagi. "Iya mbak " Saya langsung menjawab.
Perbincangan singkat kami berlanjut. Ehh, diluar dugaan cewek itu tanya "NTT itu di sumatra ya???" Aduuuh, kok Sumatra....???? Jadi bingung saya. Saya berpikir jangan-jangan ada nama NTT yang juga ada di pulau sumatra. Sumatrakan bagian barat indonesia. NTT bagian Timur. Kok dugaannya jauh sekali.... Jangan-jangan cewek ini tidak tamat sekolah dasar. Atukah ia tidak pernah belajar ilmu sosial....??? hehehe.... Ngapain saja ini cewek belajar ilmu sosial. Ketika SD, SMP, SMA kan kita dapat ilmu sosial....... hufff.....
Dan saya mulai menjelaskan letak NTT itu dimana. Lalu Ia bilang "aku lahir dan tinggal di papua waktu kecil. Pindah ke nganjuk waktu SD kelas 4". Ya, mungkin dia tidak mengerti juga di mana NTT karena Papua jauh sama NTT. Tahunya dia itu cuman Papua. Tapi seidaknya tahu. Kan dapat ilmu sosial. Tak apalah maklum. Cewek itu sedang dibangku kuliah di sebuah Poltekes di kota kediri. Mungkin kuliahnya sekarang lebih fokus ke ilmu kesehatan kale, sehingga ilmu-ilmu yang didapat sejak dibangku sekolah hilang semua hahaha..... . Ya, sebidang sama saya. Tapi kok.....????
Sepertinya sudah ada gambaran dalam benaknya, dimana itu NTT. Lalu dia bilang lagi. "Kalo ke Papua kan lewat Maluku terus bontang". Alahhh, saya lebih bingung lagi. "Kok bontang???" Bontangkan di kalimantan. Kalo ke papuakan lewat sulawesi. Mungkin maksud dia sulawesi tapi tidak mengerti dia. "Aduhhh, nilai geografi waktu SMP & SMA berapa ya mba?? Kayanya tidak lebih dari 0 (nol). hahaha..... " Untung tidak saya bilang begitu.
Lagi-lagi penjelasan singkat saya utarakan ke dia. Dari situ baru paham, kalo dia tidak bisa bedakan Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Mampus......... Jadi malas ni. Dari tadi salah melulu.
Setelah di kota nganjuk diapun turun dari kendaraan. Tapi masih ada pertanyaan dalam pikiran saya, "Waktu SD apa dia belajar ilmu sosial juga atau tidak? Soalnya hampir semua semua sekolah dasar di Indonesiakan ada mata pelajaran itu. Lalu waktu SMP, SMA, apa dia dapat Ilmu Geografi atau tidak???" Pertanyaan yang belum sempat saya tanya langsung ke cewek itu. Untung, dia cepat turun. hahaha......
Ternyata banyak orang Indonesia yang belum tahu daerah-daerah di Tanah Air sendiri. Kok miskin ilmu pengetahuan sekali ya.....!!! Kasian juga......
SEPTEMBER 2010 DI PULAU DEWATA
Jika bicara tentang Bali, pasti yang ada dalam pikiran kita adalah keindahan pantai pulau itu. Setiap orang pasti pingin untuk bisa berlibur disana suatu saat.
Bulan September 2010 merupakan giliran saya untuk berlibur di Bali. Sebetulnya rencana ini sangat mendadak . Awalnya saya ingin libur ke Jogja, tapi saya lebih memilih Bali karena Jogja sudah sering saya kunjungi. Kebetulan ada salah seorang teman yang sedang melanjutkan pendidikan di Universitas Warmadewa dempasar Bali. Jadi, tak ada keraguan untuk bisa kesana.
Siang itu saya ke agen bus untuk cek harga ticket. Wow, harga tiket malah naik 100%. Kebetulan saat itu bertepatan dengan idul fitri. Biarpun harganya meningkat tapi planing saya tetap, harus berangkat hari ini. Ticketpun dibeli dan sesegera saya kembali ke kontrakan yang tak jauh dari agen bus untuk prepare perlengkapan yang akan dibawah.
*********
Waktunya untuk berangkat ke agen bus setengah jam sebelum jam keberangkatan. Syukur, setelah disana ada salah satu adik tingkat sekampus yang juga akan ke bali dengan bus yang sama. Jadi, kami dapat ngobrol selama dalam perjalanan sehingga tak akan ada rasa bosan ataupun sepi.
Tepat pukul 14.00 WIB, bus berangkat dari Kediri ke Surabaya. Setalah di surabaya kok masih tunggu penumpang lagi…??? Ihhhhhh, lama juga. Sekitar 2 jam di terminal Bungur. Capek, bosan dan juga tak tahan untuk melanjutkan perjalanan.
*******
Pukul 18.30 WIB, waktunya untuk melanjutkan perjalanan. Selama ini, saya salah persepsi. Ternyata dari Surabaya ke tempat penyebrangan sangat jauh. Harus melewati beberapa kabupaten dijawa timur. Dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Sitobondo, dan berakhir di tempat penyebrangan Bayuwangi. Saat itu kami makan malam di sebuah restoran di Probolinggo. Setelah perut kami terisi, perjalanan dilanjutkan. Tak semulus yang dibayangkan. Ketika melewati kabupaten probolinggo banyak warga yang bersiap-siap untuk menyambut hari idul fitri. Kebetulan saat melewati tempat itu, waktu hampir dinihari alias pergantian hari. Kota Probolinggo saat itu dibanjiri oleh ribuan manusia yang mengakibatkan perjalanan kami terhambat . Bunyi petasan tak luput dari perhatian saya saat itu. Driver bus dan kami pun harus bersabar untuk bisa melewati kota Probolinggo.
Akhirnya kami bisa tiba di tempat penyebrangan. Owwwwww, seumur hidup, saya belum pernah numpang very atau sejenisnya. Maklum dari SD hingga SMA saya tidak pernah merantau diluar pulau. Waktu kuliapun saya menggunakan transportasi udara dari Kupang ke Juanda, Surabaya dan melanjutkan perjalanan darat ke tempat saya kuliah sekarang (Kediri). Kali ini saya bisa merasakan dan menikmati perjalanan air walau hanya setengah jam saja. Pokoknya ini kali pertama menggunakan transportasi laut. Hari bersejarah bagi saya. Hahahahaha…
Walaupun tengah malam tapi suasana diatas very sangat terasa keramaiannya. Ada yang potretan, menikmati hidangan kopi, mie dan ada pula yang menikmati suasana lautan yang menghubungi Pulau Jawa dan Pulau Bali itu. Tak terasa very berhenti didermaga. Saya ikut turun bersama penumpang lainnya. Dan pijakan kaki pertama di Pulau Bali saat itu menjadi nyata.
*******
Menunggu antrian bus dari kapal very. Dan saatnya untuk melintasi dataran Pulau Bali menuju tempat tujuan “Denpasar”. Beberapa menit dalam perjalanan, rasa ngantuk mulai kumat. Dan saya tidak sadarkan diri (tidur) hingga tiba di terminal Ubung Denpasar.
******
Setelah di terminal Ubung saya langsung menghubungi teman saya. Iapun segera membalas sms dengan alamat tempat tinggal tempat tinggalnya. Numpang taksi dan beberapa menit kemudian saya tiba ditempatnya. Syukur, tiba dengan selamat.
*****
Hari pertama kami mengunjungi mol untuk beli makanan . Setelah itu kepasar. Hari kedua, saya mulai berjalan lebih jauh lagi dan ini lebih nikmat. Kami mengunjungi keluarga-keluarga temanku itu yang telah lama tinggal disana. Yang paling menyenangkan adalah ketika kami mengunjungi om dan tante sobatku itu. Disana ada warung RW (jualan daging anjing). Warung itu menyiapkan makanan ala Timor. Daging anjing dan sayur dari nangkah. Nama warung itu RW ATAMBUA. Laris juga, dan kebanyakan pelangannya adalah orang-orang dari NTT. Kamipun turut ambil bagian dalam santap siang di RW Atambua. Menikmati makanan yang sangat jarang ditemukan dirantauan ini. Daging anjing dan sayur nangka. Enak dan nikmat. Pinginnya makan terus. Dari siang hingga sore, kami berdua dirumah keluarga itu.
Sore haripun tiba. Menyenangkan jika berada dipantai saat sore hari. Saatnya untuk ke Pantai Sanur. Kebetulan jarak dari rumah keluarga itu dan Pantai Sanur tidak begitu jauh. Sesegera, kami beranjak kesana. Tak kala ramainya dengan Pantai Paris di jogjakarta. Banyak wistawan lokal dan asing dapat dijumpai disana. Antrian panjang kendaraanpun tak terhindarkan untuk memasuki pantai itu. Panorama pantainya indah dan ramai banyak dikunjungi wisatawan sore itu. Duduk sambil menikmati jagung bakar dipinggir pantai. Kali ini saya tidak bisa mandi soalnya pakaian ganti tak dibawah. Beberapa menit kemudian kami segera kembali kerumah kost teman saya.
Hari ketiga saya tidak bisa kemana-mana. Maklum teman saya itu lagi ikut kegiatan dikampusnya. Ini adalah hari terakhir ditempatnya soalnya besok saya akan ke Kute Bali. Kebetulan ada beberapa teman saya yang telah lebih dahulu berlibur ke Kute, Bali. Ada seorang teman yang mengajak saya ketempat kakanya. Malam itu saya ngobrol via sms dan minta alamat dimana tempat iya berlibur. Saya pergi keesokan harinya. Orang buta, tidak tahu akan situasi disana tapi malah nekad untuk pergi. Ya, hanya bermodal nekad saya pergi. Pentingnya harus tahu alamat.Kemana dan dimanapun kita pergi intinya kita tahu akan alamat tempat tinggal orang yang ditujuh. Benar…! Tidak salah, saya diantar taksi tepat digang (lorong) kakanya temanku. Saya berjalan menyusuri gang itu. Syukur, langkah demi langkah , rumah demi rumah saya lewati dan akhirnya saya menemukan temanku sedang nongkrong di depan rumah. Lagi-lagi wajahnya tampak seperti belum percaya akan keberadaan saya disana.
******
Sore itu kami berjalan menyusuri Kuta Bali. Kali ini sangat lain dari yang lain. Terasa seperti berlibur ke Eropa atau Australia. Soalnya banyak wisatawan asing disana. Tak lupa kami mengujungi pantai Kute dan disana kami juga menjumpai teman-teman lain yang juga teman kuliah di Kediri. Jadi, bisa bareng sambil menikmati suasana dan pemandangan disekitar Pantai Kute.
Situasi Pantai Kute saat sore hari.
Pemandangan alam Pantai Kute saat matahari mulai terbenam.
Nikmat benar dan sungguh fantastis. Kute tempat yang indah, memiliki pemandangan yang amat spesial saat matahari terbenam. Kamipun menghabiskan beberapa jam di Pantai kute hingga matahari terbenam. Waktu pulang, tak lupa kami mengunjungi Legion, sebuah nama tempat yang sangat ramai dan dipenuhi oleh wisatawan-wisatawan asing. Ada diskotic, café, karaoke, toko baju, toko pakian pokoknya semuanya ada disana. Adapun sebuah monument peringatan Bom bali II yang berada di wilayah itu. Kita semua tahu bahwa peristiwa bom bali II merupakan peristiwa yang kala itu sangat melukai dan menurunkan derajat bangsa kita ini, dimata dunia. Ada nama-nama korban bom yang terpapar disana. Tempat ini merupakan kunjungan saya terakhir dibali pada libur kali ini.
Saat berpose dimonumen peringatan Bom Bali II
Selain memiliki pemandangan alam dan pantai yang indah. Masyarakatnya juga sangat ramah dan sopan. Diperkotaan denpasar budaya lokal masyarakat asli bali sangat kental dan sepertinya tidak dipengaruhi oleh arus modernisasi sekarang.
Walaupun hanya 4 hari tapi tour pertama saya ke Bali ini sangat menyenangkan. Kepingin untuk berlibur terus kesana. Bali, saya akan kembali……..!!!!!!!!!!!!!!!
Kediri, 02/04/2011
Kategori
- Alat Ukur Tridinamika
- As Roma
- Banain
- Cendana Fc
- Cinta
- Hanya Kata-Kata
- Hemat Listrik
- Italia
- Kata-Kata Indah
- Kefamenanu (TTU)
- Kesehatan
- Kisah
- Kuliner
- Mahasiswa
- Motivasi
- My Way
- Olahraga
- Otomotif
- Puisi
- Refleksi & Renungan
- Romanisti
- Sport
- Teknologi
- Tips & Trik Blog
- Tips & Trik Facebook
- Tips Komputer
- Transportasi
- Ucapan Selamat
- Wisata & Treveling
Postingan Terbaru
Diberdayakan oleh Blogger.
















